Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Selasa, 20 Maret 2012

Asuhan Keperawatan Defisit Perawatan Diri


A. Pengertian
Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam memenuhi kebutuhannya guna memepertahankan kehidupannya, kesehatan dan kesejahteraan sesuai dengan kondisi kesehatannya, klien dinyatakan terganggu keperawatan dirinya jika tidak dapat melakukan perawatan diri ( Depkes 2000). Defisit perawatan diri adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktifitas perawatan diri (mandi, berhias, makan, toileting) (Nurjannah, 2004).
Menurut Poter. Perry (2005), Personal hygiene adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis, kurang perawatan diri adalah kondisi dimana seseorang tidak mampu melakukan perawatan kebersihan untuk dirinya ( Tarwoto dan Wartonah 2000 ).
B. Jenis–Jenis Perawatan Diri

1. Kurang perawatan diri : Mandi / kebersihan
Kurang perawatan diri (mandi) adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktivitas mandi/kebersihan diri.
2. Kurang perawatan diri : Mengenakan pakaian / berhias.
Kurang perawatan diri (mengenakan pakaian) adalah gangguan kemampuan memakai pakaian dan aktivitas berdandan sendiri.
3. Kurang perawatan diri : Makan
Kurang perawatan diri (makan) adalah gangguan kemampuan untuk menunjukkan aktivitas makan.
4. Kurang perawatan diri : Toileting
Kurang perawatan diri (toileting) adalah gangguan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas toileting sendiri (Nurjannah : 2004, 79 ).
C. Etiologi

 

Menurut Tarwoto dan Wartonah, (2000) Penyebab kurang perawatan diri adalah sebagai berikut :
1. Kelelahan fisik
2. Penurunan kesadaran
Menurut Dep Kes (2000: 20), penyebab kurang perawatan diri adalah :
1. Faktor prediposisi
a. Perkembangan
Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga perkembangan inisiatif terganggu.
b. Biologis
Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan perawatan diri.
c. Kemampuan realitas turun
Klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang kurang menyebabkan ketidakpedulian dirinya dan lingkungan termasuk perawatan diri.
d. Sosial
Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri lingkungannya. Situasi lingkungan mempengaruhi latihan kemampuan dalam perawatan diri.
2. Faktor presipitasi
Yang merupakan faktor presiptasi deficit perawatan diri adalah kurang penurunan motivasi, kerusakan kognisi atau perceptual, cemas, lelah/lemah yang dialami individu sehingga menyebabkan individu kurang mampu melakukan perawatan diri.
Menurut Depkes (2000: 59) Faktor – faktor yang mempengaruhi personal hygiene adalah:
1. Body Image
Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan diri misalnya dengan adanya perubahan fisik sehingga individu tidak peduli dengan kebersihan dirinya.
2. Praktik Sosial
Pada anak – anak selalu dimanja dalam kebersihan diri, maka kemungkinan akan terjadi perubahan pola personal hygiene.
3. Status Sosial Ekonomi
Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi, sikat gigi, shampo, alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk menyediakannya.
4. Pengetahuan
Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena pengetahuan yang baik dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya pada pasien penderita diabetes mellitus ia harus menjaga kebersihan kakinya.
5. Budaya
Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak boleh dimandikan.
6. Kebiasaan seseorang
Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk tertentu dalam perawatan diri seperti penggunaan sabun, sampo dan lain – lain.
7. Kondisi fisik atau psikis
Pada keadaan tertentu / sakit kemampuan untuk merawat diri berkurang dan perlu bantuan untuk melakukannya.
Dampak yang sering timbul pada masalah personal hygiene.
1. Dampak fisik
Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak terpeliharanya kebersihan perorangan dengan baik, gangguan fisik yang sering terjadi adalah : Gangguan integritas kulit, gangguan membran mukosa mulut, infeksi pada mata dan telinga dan gangguan fisik pada kuku.
2. Dampak psikososial
Masalah sosial yang berhubungan dengan personal hygiene adalah gangguan kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai, kebutuhan harga diri, aktualisasi diri dan gangguan interaksi sosial.
D. Tanda dan Gejala
Menurut Depkes (2000: 20) Tanda dan gejala klien dengan defisit perawatan diri adalah:
a) Fisik
Badan bau, pakaian kotor.
Rambut dan kulit kotor.
Kuku panjang dan kotor
Gigi kotor disertai mulut bau
penampilan tidak rapi
b) Psikologis
Malas, tidak ada inisiatif.
Menarik diri, isolasi diri.
Merasa tak berdaya, rendah diri dan merasa hina.
c) Sosial
Interaksi kurang.
Kegiatan kurang
Tidak mampu berperilaku sesuai norma.
Cara makan tidak teratur BAK dan BAB di sembarang tempat, gosok gigi dan mandi tidak mampu mandiri.
Data yang biasa ditemukan dalam deficit perawatan diri adalah :
1. Data subyektif
a. Pasien merasa lemah
b. Malas untuk beraktivitas
c. Merasa tidak berdaya.
2. Data obyektif
a. Rambut kotor, acak – acakan
b. Badan dan pakaian kotor dan bau
c. Mulut dan gigi bau.
d. Kulit kusam dan kotor
e. Kuku panjang dan tidak terawat
E. Mekanisme Koping
a. Regresi
b. Penyangkalan
c. Isolasi diri, menarik diri
d. Intelektualisasi
F. Rentang Respon Kognitif
Asuhan yang dapat dilakukan keluarga bagi klien yang tidak dapat merawat diri sendiri adalah :
1. Meningkatkan kesadaran dan kepercayaan diri
a) Bina hubungan saling percaya.
b) Bicarakan tentang pentingnya kebersihan.
c) Kuatkan kemampuan klien merawat diri.
2. Membimbing dan menolong klien merawat diri.
a) Bantu klien merawat diri
b) Ajarkan ketrampilan secara bertahap
c) Buatkan jadwal kegiatan setiap hari
3. Ciptakan lingkungan yang mendukung
a. Sediakan perlengkapan yang diperlukan untuk mandi.
b. Dekatkan peralatan mandi biar mudah dijangkau oleh klien.
c. Sediakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi klien misalnya, kamar mandi yang dekat dan tertutup.
G. Pohon Masalah
Penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri
Isolasi sosial
Defisit perawatan diri : mandi, toileting, makan, berhias.
H. Diagnosa Keperawatan
Menurut Depkes (2000: 32) diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien defisit perawatan diri sesuai dengan bagan 1.1 yaitu:
1. Penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri
2. Defisit perawatan diri.
3. Isolasi Sosial.
I. Fokus Intervensi
Diagnosa keperawatan: penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri.
Tujuan Umum
Klien dapat meningkatkan minat dan motivasinya untuk memperhatikan kebersihan diri.
Tujuan Khusus
TUK I : Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat.
Kriteria evaluasi
Dalam berinteraksi klien menunjukan tanda-tanda percaya pada perawat:
a. Wajah cerah, tersenyum
b. Mau berkenalan
c. Ada kontak mata
d. Menerima kehadiran perawat
e. Bersedia menceritakan perasaannya
Intervensi
a. Berikan salam setiap berinteraksi.
b. Perkenalkan nama, nama panggilan perawat dan tujuan perawat berkenalan.
c. Tanyakan nama dan panggilan kesukaan klien.
d. Tunjukan sikap jujur dan menepati janji setiap kali berinteraksi.
e. Tanyakan perasaan dan masalah yang dihadapi klien.
f. Buat kontrak interaksi yang jelas.
g. Dengarkan ungkapan perasaan klien dengan empati.
h. Penuhi kebutuhan dasar klien.
TUK II : klien dapat mengenal tentang pentingnya kebersihan diri.
Kriteria evaluasi
Klien dapat menyebutkan kebersihan diri pada waktu 2 kali pertemuan, mampu menyebutkan kembali kebersihan untuk kesehatan seperti mencegah penyakit dan klien dapat meningkatkan cara merawat diri.
Intervensi
a. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik.
b. Diskusikan bersama klien pentingnya kebersihan diri dengan cara menjelaskan pengertian tentang arti bersih dan tanda- tanda bersih.
c. Dorong klien untuk menyebutkan 3 dari 5 tanda kebersihan diri.
d. Diskusikan fungsi kebersihan diri dengan menggali pengetahuan klien terhadap hal yang berhubungan dengan kebersihan diri.
e. Bantu klien mengungkapkan arti kebersihan diri dan tujuan memelihara kebersihan diri.
f. Beri reinforcement positif setelah klien mampu mengungkapkan arti kebersihan diri.
g. Ingatkan klien untuk memelihara kebersihan diri seperti: mandi 2 kali pagi dan sore, sikat gigi minimal 2 kali sehari (sesudah makan dan sebelum tidur), keramas dan menyisir rambut, gunting kuku jika panjang.
TUK III : Klien dapat melakukan kebersihan diri dengan bantuan perawat.
Kriteria evaluasi
Klien berusaha untuk memelihara kebersihan diri seperti mandi pakai sabun dan disiram pakai air sampai bersih, mengganti pakaian bersih sehari–hari, dan merapikan penampilan.
Intervensi
a. Motivasi klien untuk mandi.
b. Beri kesempatan untuk mandi, beri kesempatan klien untuk mendemonstrasikan cara memelihara kebersihan diri yang benar.
c. Anjurkan klien untuk mengganti baju setiap hari.
d. Kaji keinginan klien untuk memotong kuku dan merapikan rambut.
e. Kolaborasi dengan perawat ruangan untuk pengelolaan fasilitas perawatan kebersihan diri, seperti mandi dan kebersihan kamar mandi.
f. Bekerjasama dengan keluarga untuk mengadakan fasilitas kebersihan diri seperti odol, sikat gigi, shampoo, pakaian ganti, handuk dan sandal.
TUK IV : Klien dapat melakukan kebersihan perawatan diri secara mandiri.
Kriteria evaluasi
Setelah satu minggu klien dapat melakukan perawatan kebersihan diri secara rutin dan teratur tanpa anjuran, seperti mandi pagi dan sore, ganti baju setiap hari, penampilan bersih dan rapi.
Intervensi
Monitor klien dalam melakukan kebersihan diri secara teratur, ingatkan untuk mencuci rambut, menyisir, gosok gigi, ganti baju dan pakai sandal.
TUK V : Klien dapat mempertahankan kebersihan diri secara mandiri.
Kriteria evaluasi
Klien selalu tampak bersih dan rapi.
Intervensi
Beri reinforcement positif jika berhasil melakukan kebersihan diri.
TUK VI : Klien dapat dukungan keluarga dalam meningkatkan kebersihan diri.
Kriteria evaluasi
Keluarga selalu mengingatkan hal–hal yang berhubungan dengan kebersihan diri, keluarga menyiapkan sarana untuk membantu klien dalam menjaga kebersihan diri, dan keluarga membantu dan membimbing klien dalam menjaga kebersihan diri.
Intervensi
a. Jelaskan pada keluarga tentang penyebab kurang minatnya klien menjaga kebersihan diri.
b. Diskusikan bersama keluarga tentang tindakanyang telah dilakukan klien selama di RS dalam menjaga kebersihan dan kemajuan yang telah dialami di RS.
c. Anjurkan keluarga untuk memutuskan memberi stimulasi terhadap kemajuan yang telah dialami di RS.
d. Jelaskan pada keluarga tentang manfaat sarana yang lengkap dalam menjaga kebersihan diri klien.
e. Anjurkan keluarga untuk menyiapkan sarana dalam menjaga kebersihan diri.
f. Diskusikan bersama keluarga cara membantu klien dalam menjaga kebersihan diri.
g. Diskusikan dengan keluarga mengenai hal yang dilakukan misalnya: mengingatkan pada waktu mandi, sikat gigi, mandi, keramas, dan lain-lain.
DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta : EGC.
Depkes. 2000. Standar Pedoman Perawatan jiwa.
Kaplan Sadoch. 1998. Sinopsis Psikiatri. Edisi 7. Jakarta : EGC
Keliat. B.A. 2006. Modul MPKP Jiwa UI . Jakarta : EGC
Keliat. B.A. 2006. Proses Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC
Nurjanah, Intansari S.Kep. 2001. Pedoman Penanganan Pada Gangguan Jiwa. Yogyakarta : Momedia
Perry, Potter. 2005 . Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta : EGC
Rasmun S. Kep. M 2004. Seres Kopino dan Adaptasir Toors dan Pohon Masalah Keperawatan. Jakarta : CV Sagung Seto
Stuart, Sudden, 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa edisi 3. Jakarta : EGC
Santosa, Budi. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda, 2005 – 2006. Jakarta : Prima Medika.
Stuart, GW. 2002. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 5. Jakarta: EGC.
Tarwoto dan Wartonah. 2000. Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta.
Townsend, Marry C. 1998. Buku Saku Diagnosa Keperawatan pada Perawatan Psikiatri edisi 3. Jakarta. EGC

Asuhan Keperawatan Perilaku Kekerasan

  1. Masalah Utama:
Perilaku kekerasan/ amuk.

  1. Proses Terjadinya Masalah
        1. Pengertian perilaku kekerasan
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan. Hal tersebut dilakukan untuk mengungkapkan perasaan kesal atau marah yang tidak konstruktif. (Stuart dan Sundeen, 1995).
Tanda dan Gejala :
  • Muka merah
  • Pandangan tajam
  • Otot tegang
  • Nada suara tinggi
  • Berdebat dan sering pula tampak klien memaksakan kehendak
  • Memukul jika tidak senang

        1. Penyebab perilaku kekerasan
Perilaku kekerasan bisa disebabkan adanya gangguan harga diri: harga diri rendah. Harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. Dimana gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa gagal mencapai keinginan.


Tanda dan gejala :
  • Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan tindakan terhadap penyakit (rambut botak karena terapi)
  • Rasa bersalah terhadap diri sendiri (mengkritik/menyalahkan diri sendiri)
  • Gangguan hubungan sosial (menarik diri)
  • Percaya diri kurang (sukar mengambil keputusan)
  • Mencederai diri (akibat dari harga diri yang rendah disertai harapan yang suram, mungkin klien akan mengakiri kehidupannya.
(Budiana Keliat, 1999)
        1. Akibat dari Perilaku kekerasan
Klien dengan perilaku kekerasan dapat menyebabkan resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan. Resiko mencederai merupakan suatu tindakan yang kemungkinan dapat melukai/ membahayakan diri, orang lain dan lingkungan.
Tanda dan Gejala :
  • Memperlihatkan permusuhan
  • Mendekati orang lain dengan ancaman
  • Memberikan kata-kata ancaman dengan rencana melukai
  • Menyentuh orang lain dengan cara yang menakutkan
  • Mempunyai rencana untuk melukai

C. Pohon Masalah
Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan

Perilaku Kekerasan/amuk

Core Problem

Gangguan Harga Diri : Harga Diri Rendah
(Budiana Keliat, 1999)
D. Masalah keperawatan dan Data yang Perlu Dikaji
    1. Masalah keperawatan:
  1. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan
  2. Perilaku kekerasan / amuk
  3. Gangguan harga diri : harga diri rendah
    1. Data yang perlu dikaji:
  1. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan
  1. Data subjektif
Klien mengatakan marah dan jengkel kepada orang lain, ingin membunuh, ingin membakar atau mengacak-acak lingkungannya.
  1. Data objektif
Klien mengamuk, merusak dan melempar barang-barang, melakukan tindakan kekerasan pada orang-orang disekitarnya.
  1. Perilaku kekerasan / amuk
  1. Data Subjektif :
          • Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang.
          • Klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika sedang kesal atau marah.
          • Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya.
  1. Data Objektif
      • Mata merah, wajah agak merah.
      • Nada suara tinggi dan keras, bicara menguasai.
      • Ekspresi marah saat membicarakan orang, pandangan tajam.
      • Merusak dan melempar barang barang.
  1. Gangguan harga diri : harga diri rendah
    1. Data subyektif:
Klien mengatakan: saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa, bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri.
    1. Data objektif:
Klien tampak lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif tindakan, ingin mencederai diri / ingin mengakhiri hidup.
        1. Diagnosa Keperawatan
    1. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan perilaku kekerasan/ amuk.
    2. Perilaku kekerasan berhubungan dengan gangguan harga diri: harga diri rendah.

        1. Rencana Tindakan
Diagnosa 1: Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan perilaku kekerasan/ amuk
  1. Tujuan Umum: Klien tidak mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungannya
  2. Tujuan Khusus:
    1. Klien dapat membina hubungan saling percaya.
Tindakan:
    1. Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, empati, sebut nama perawat dan jelaskan tujuan interaksi.
    2. Panggil klien dengan nama panggilan yang disukai.
    3. Bicara dengan sikap tenang, rileks dan tidak menantang.
    4. Jelaskan tentang kontrak yang akan dibuat.
    5. Beri rasa aman dan sikap empati.
    6. Lakukan kontak singkat tapi sering.

    1. Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan.
Tindakan:
      1. Beri kesempatan mengungkapkan perasaan.
      2. Bantu klien mengungkapkan perasaan jengkel / kesal.
      3. Dengarkan ungkapan rasa marah dan perasaan bermusuhan klien dengan sikap tenang.

    1. Klien dapat mengidentifikasi tanda tanda perilaku kekerasan.
Tindakan :
      1. Anjurkan klien mengungkapkan yang dialami dan dirasakan saatjengkel/kesal.
      2. Observasi tanda perilaku kekerasan.
      3. Simpulkan bersama klien tanda tanda jengkel / kesal yang dialami klien.

    1. Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
Tindakan:
      1. Anjurkan mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
      2. Bantu bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
      3. Tanyakan "apakah dengan cara yang dilakukan masalahnya selesai ?"

    1. Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.
Tindakan:
      1. Bicarakan akibat/kerugian dari cara yang dilakukan.
      2. Bersama klien menyimpulkan akibat dari cara yang digunakan.
      3. Tanyakan apakah ingin mempelajari cara baru yang sehat.

    1. Klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam berespon terhadap kemarahan.
Tindakan :
      1. Tanyakan kepada klien apakah ia ingin mempelajari cara baru yang sehat
      2. Beri pujian jika mengetahui cara lain yang sehat.
      3. Diskusikan dengan klien cara lain yang sehat.
  • Secara fisik : tarik nafas dalam jika sedang kesal, berolah raga, memukul bantal / kasur atau pekerjaan yang memerlukan tenaga.
  • Secara verbal : katakan bahwa anda sedang marah atau kesal/ tersinggung.
  • Secara sosial : lakukan dalam kelompok cara – cara marah yang sehat, latihan asertif, latihan manajemen perilaku kekerasan.
  • Secara spiritual : berdo'a, sembahyang, memohon kepada Tuhan untuk diberi kesabaran.



    1. Klien dapat mengidentifikasi cara mengontrol perilaku kekerasan.
Tindakan:
      1. Bantu memilih cara yang paling tepat.
      2. Bantu mengidentifikasi manfaat cara yang telah dipilih.
      3. Bantu mensimulasikan cara yang telah dipilih.
      4. Beri reinforcement positif atas keberhasilan yang dicapai dalam simulasi.
      5. Anjurkan menggunakan cara yang telah dipilih saat jengkel / marah.

    1. Klien mendapat dukungan dari keluarga dalam mengontrol perilaku kekerasan
Tindakan :
      1. Identifikasi kemampuan keluarga merawat klien dari sikap apa yang telah dilakukan keluarga selama ini.
      2. Jelaskan peran serta keluarga dalam merawat klien.
      3. Jelaskan cara – cara merawat klien :
  • Cara mengontrol perilaku marah secara konstruktif.
  • Sikap tenang, bicara tenang dan jelas.
  • Membantu klien mengenal penyebab ia marah.
8.4.Bantu keluarga mendemonstrasikan cara merawat klien.
8.5.Bantu keluarga mengungkapkan perasaannya setelah melakukan demonstrasi

    1. Klien dapat menggunakan obat dengan benar (sesuai program).
Tindakan:
      1. Jelaskan jenis – jenis obat yang diminum klien pada klien dan keluarga.
      2. Diskusikan manfaat minum obat dan kerugian berhenti minum obat tanpa seizin dokter.
      3. Jelaskan prinsip 5 benar minum obat (nama klien, obat, dosis, cara dan waktu).
      4. Anjurkan untuk membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan.
      5. Anjurkan klien melaporkan pada perawat / dokter jika merasakan efek yang tidak menyenangkan.
      6. Beri pujian jika klien minum obat dengan benar.
Diagnosa 2: Perilaku kekerasan berhubungan dengan gangguan konsep diri : harga diri rendah
          1. Tujuan Umum :
Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal
          1. Tujuan khusus :
          1. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat
Tindakan :
      1. Bina hubungan saling percaya
Salam terapeutik
Perkenalan diri
- Tanyakan nama lengkap klien dan panggilan yang disukai.
Jelaskan tujuan pertemuan
Ciptakan lingkungan yang tenang
Buat kontrak yang jelas ( waktu, tempat dan topik pembicaraan ).
        1. Beri kesempatan pada klien mengungkapkan perasaannya.
        2. Sediakan waktu untuk mendengarkan klien.
        3. Katakan kepada klien bahwa ia adalah seseorang yang berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri.

2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.
Tindakan :
      1. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien.
      2. Setiap bertemu klien hindarkan dari memberi penilaian negatif
      3. Utamakan memberi pujian yang realistis.

    1. Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan.
Tindakan :
      1. Diskusikan bersama klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit
      2. Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang ke rumah.

4. Klien dapat menetapkan/ merencanakan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki.
Tindakan :
      1. Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan ( mandiri, bantuan sebagian, bantuan total ).
      2. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien.
      3. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan.

    1. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuannya
Tindakan :
      1. Beri kesempatan klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan.
      2. Beri pujian atas keberhasilan klien.
      3. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah.

    1. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada.
Tindakan :
      1. Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri rendah.
      2. Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat.
      3. Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah.
      4. Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga
DAFTAR PUSTAKA
          1. Stuart GW, Sundeen, Principles and Practice of Psykiatric Nursing (5 th ed.). St.Louis Mosby Year Book, 1995
          2. Keliat Budi Ana, Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, Edisi I, Jakarta : EGC, 1999
          3. Keliat Budi Ana, Gangguan Konsep Diri, Edisi I, Jakarta : EGC, 1999
          4. Aziz R, dkk, Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa Semarang : RSJD Dr. Amino Gonohutomo, 2003
          5. Tim Direktorat Keswa, Standar Asuhan Keperawatan Jiwa, Edisi 1, Bandung, RSJP Bandung, 2000

Asuhan Keperawatan Menarik Diri


  1. Masalah Utama :
Menarik diri.

  1. Proses Terjadinya Masalah
    1. Pengertian
Menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain (Rawlins,1993). Terjadinya perilaku menarik diri dipengaruhi oleh faktor predisposisi dan stressor presipitasi. Faktor perkembangan dan sosial budaya merupakan faktor predispoisi terjadinya perilaku menarik diri. Kegagalan perkembangan dapat mengakibatkan individu tidak percaya diri, tidak percaya orang lain, ragu, takut salah, pesimis, putus asa terhadap hubungan dengan orang lain, menghindar dari orang lain, tidak mampu merumuskan keinginan, dan merasa tertekan. Keadaan menimbulkan perilaku tidak ingin berkomunikasi dengan orang lain, menghindar dari orang lain, lebih menyukai berdiam diri sendiri, kegiatan sehari-hari hampir terabaikan.
Gejala Klinis :
      • Apatis, ekspresi sedih, afek tumpul
      • Menghindar dari orang lain (menyendiri)
      • Komunikasi kurang/tidak ada. Klien tidak tampak bercakap-cakap dengan klien lain/perawat
      • Tidak ada kontak mata, klien sering menunduk
      • Berdiam diri di kamar/klien kurang mobilitas
      • Menolak berhubungan dengan orang lain, klien memutuskan percakapan atau pergi jika diajak bercakap-cakap
      • Tidak melakukan kegiatan sehari-hari.
(Budi Anna Keliat, 1998)

    1. Penyebab dari Menarik Diri
Salah satu penyebab dari menarik diri adalah harga diri rendah. Harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. Dimana gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa gagal mencapai keinginan.
Gejala Klinis
  • Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan tindakan terhadap penyakit (rambut botak karena terapi)
  • Rasa bersalah terhadap diri sendiri (mengkritik/menyalahkan diri sendiri)
  • Gangguan hubungan sosial (menarik diri)
  • Percaya diri kurang (sukar mengambil keputusan)
  • Mencederai diri (akibat dari harga diri yang rendah disertai harapan yang suram, mungkin klien akan mengakiri kehidupannya.
( Budi Anna Keliat, 1999)

    1. Akibat dari Menarik Diri
Klien dengan perilaku menarik diri dapat berakita adanya terjadinya resiko perubahan sensori persepsi (halusinasi). Halusinasi ini merupakan salah satu orientasi realitas yang maladaptive, dimana halusinasi adalah persepsi klien terhadap lingkungan tanpa stimulus yang nyata, artinya klien menginterprestasikan sesuatu yang nyata tanpa stimulus/ rangsangan eksternal.
Gejala Klinis :
  • bicara, senyum dan tertawa sendiri
  • menarik diri dan menghindar dari orang lain
  • tidak dapat membedakan tidak nyata dan nyata
  • tidak dapat memusatkan perhatian
  • curiga, bermusuhan, merusak (diri sendiri, orang lain dan lingkungannya), takut
  • ekspresi muka tegang, mudah tersinggung
(Budi Anna Keliat, 1999)
  1. Pohon Masalah

Resiko Perubahan Sensori-persepsi :
Halusinasi ……..


Isolasi sosial : menarik diri Core Problem


Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah
( Budi Anna Keliat, 1999)

  1. Masalah Keperawatan dan Data yang perlu dikaji
a. Masalah Keperawatan
  1. Resiko perubahan persepsi - sensori : halusinasi
  2. Isolasi Sosial : menarik diri
  3. Gangguan konsep diri : harga diri rendah
b. Data yang perlu dikaji
  1. Resiko perubahan persepsi - sensori : halusinasi
1). Data Subjektif
  1. Klien mengatakan mendengar bunyi yang tidak berhubungan dengan stimulus nyata
  2. Klien mengatakan melihat gambaran tanpa ada stimulus yang nyata
  3. Klien mengatakan mencium bau tanpa stimulus
  4. Klien merasa makan sesuatu
  5. Klien merasa ada sesuatu pada kulitnya
  6. Klien takut pada suara/ bunyi/ gambar yang dilihat dan didengar
  7. Klien ingin memukul/ melempar barang-barang
2). Data Objektif
  1. Klien berbicara dan tertawa sendiri
  2. Klien bersikap seperti mendengar/ melihat sesuatu
  3. Klien berhenti bicara ditengah kalimat untuk mendengarkan sesuatu
  4. Disorientasi
  1. Isolasi Sosial : menarik diri
1). Data Subyektif
Sukar didapat jika klien menolak komunikasi. Terkadang hanya berupa jawaban singkat ya atau tidak.
2). Data Obyektif
Klien terlihat apatis, ekspresi sedih, afek tumpul, menyendiri, berdiam diri di kamar dan banyak diam.
  1. Gangguan konsep diri : harga diri rendah
1). Data subyektif:
Klien mengatakan: saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa, bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri.
2). Data obyektif:
Klien tampak lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif tindakan, ingin mencederai diri/ ingin mengakhiri hidup.

  1. Diagnosis Keperawatan
1). Resiko perubahan persepsi sensori: halusinasi …. berhubungan dengan menarik diri.
2). Isolasi sosial: menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.

VI. Rencana Tindakan Keperawatan
Diagnosa 1 Resiko perubahan persepsi sensori: halusinasi …. berhubungan dengan menarik diri.
Tujuan Umum :
Klien dapat berinteraksi dengan orang lain sehingga tidak terjadi halusinasi
Tujuan Khusus :
  1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
Rasional : Hubungan saling percaya merupakan landasan utama untuk hubungan selanjutnya
Tindakan:
1.1 Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik dengan cara :
    1. sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal
    2. perkenalkan diri dengan sopan
    3. tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai
    4. jelaskan tujuan pertemuan
    5. jujur dan menepati janji
    6. tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya
    7. berikan perhatian kepada klien dan perhatian kebutuhan dasar klien
  1. Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri
Rasional : Memberi kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya dapat membantu mengurangi stres dan penyebab perasaaan menarik diri
Tindakan
2.1 Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda-tandanya
2.1. Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan penyebab menarik diri atau mau bergaul
2.1. Diskusikan bersama klien tentang perilaku menarik diri, tanda-tanda serta penyebab yang muncul
2.1. Berikan pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya
3. Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.
Rasional :
  • Untuk mengetahui keuntungan dari bergaul dengan orang lain.
  • Untuk mengetahui akibat yang dirasakan setelah menarik diri.
Tindakan :
    1. Kaji pengetahuan klien tentang manfaat dan keuntungan berhubungan dengan orang lain
      1. Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang keuntungan berhubungan dengan prang lain
      2. Diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubungan dengan orang lain
      3. Beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain
    1. Kaji pengetahuan klien tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain
      1. Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan dengan orang lain
      2. Diskusikan bersama klien tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain
      3. Beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain
  1. Klien dapat melaksanakan hubungan sosial
Rasional :
  • Mengeksplorasi perasaan klien terhadap perilaku menarik diri yang biasa dilakukan.
  • Untuk mengetahui perilaku menarik diria dilakukan dan dengan bantuan perawat bisa membedakan perilaku konstruktif dan destruktif.
Tindakan
    1. Kaji kemampuan klien membina hubungan dengan orang lain
    2. Dorong dan bantu kien untuk berhubungan dengan orang lain melalui tahap :
  • K – P
  • K – P – P lain
  • K – P – P lain – K lain
  • K – Kel/ Klp/ Masy
    1. Beri reinforcement positif terhadap keberhasilan yang telah dicapai
    2. Bantu klien untuk mengevaluasi manfaat berhubungan
    3. Diskusikan jadwal harian yang dilakukan bersama klien dalam mengisi waktu
    4. Motivasi klien untuk mengikuti kegiatan ruangan
    5. Beri reinforcement positif atas kegiatan klien dalam kegiatan ruangan
  1. Klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah berhubungan dengan orang lain
Rasional : Dapat membantu klien dalam menemukan cara yang dapat menyelesaikan masalah
Tindakan
    1. Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya bila berhubungan dengan orang lain
    2. Diskusikan dengan klien tentang perasaan manfaat berhubungan dengan orang lain
    3. Beri reinforcement positif atas kemampuan klien mengungkapkan perasaan manfaat berhubungan dengan oranglain
6. Klien dapat memberdayakan sistem pendukung atau keluarga
Rasional : memberikan penanganan bantuan terapi melalui pengumpulan data yang lengkap dan akurat kondisi fisik dan non fisik pasien serta keadaan perilaku dan sikap keluarganya
Tindakan
    1. Bina hubungan saling percaya dengan keluarga :
  • salam, perkenalan diri
  • jelaskan tujuan
  • buat kontrak
  • eksplorasi perasaan klien
    1. Diskusikan dengan anggota keluarga tentang :
  • perilaku menarik diri
  • penyebab perilaku menarik diri
  • akibat yang terjadi jika perilaku menarik diri tidak ditanggapi
  • cara keluarga menghadapi klien menarik diri
    1. Dorong anggota keluarga untukmemberikan dukungan kepada klien untuk berkomunikasi dengan orang lain
    2. Anjurkan anggota keluarga secara rutin dan bergantian menjenguk klien minimal satu kali seminggu
    3. Beri reinforcement positif positif atas hal-hal yang telah dicapai oleh keluarga
Diagnosa 2 : Isolasi sosial: menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.
Tujuan umum :
Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal
Tujuan khusus :
          1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
Rasional : Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk kelancaran hubungan interaksi selanjutnya
Tindakan :
    1. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapetutik
    1. sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal
    2. Perkenalkan diri dengan sopan
    3. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien
    4. Jelaskan tujuan pertemuan
    5. Jujur dan menepati janji
    6. Tunjukan sikap empati dan menerima klien apa adanya
    7. Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien.
  1. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
Rasional :
  • Diskusikan tingkat kemampuan klien seperti menilai realitas, kontrol diri atau integritas ego diperlakukan sebagai dasar asuhan keperawatannya.
  • Reinforcement positif akan meningkatkan harga diri klien
  • Pujian yang realistik tidak menyebabkan klien melakukan kegiatan hanya karena ingin mendapatkan pujian
Tindakan:
2.1. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien
2.1. Setiap bertemu klien hindarkan dari memberi penilaian negatif
2.1. Utamakan memberikan pujian yang realistik
3. Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan
Rasional :
  • Keterbukaan dan pengertian tentang kemampuan yang dimiliki adalah prasyarat untuk berubah.
  • Pengertian tentang kemampuan yang dimiliki diri memotivasi untuk tetap mempertahankan penggunaannya
Tindakan:
    1. Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit
    2. Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaannya.
4. Klien dapat (menetapkan) merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki
Rasional :
  • Membentuk individu yang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri
  • Klien perlu bertindak secara realistis dalam kehidupannya.
  • Contoh peran yang dilihat klien akan memotivasi klien untuk melaksanakan kegiatan
Tindakan:
    1. Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan
  • Kegiatan mandiri
  • Kegiatan dengan bantuan sebagian
  • Kegiatan yang membutuhkan bantuan total
    1. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien
    2. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan
  1. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya
Rasional :
    • Memberikan kesempatan kepada klien mandiri dapat meningkatkan motivasi dan harga diri klien
    • Reinforcement positif dapat meningkatkan harga diri klien
    • Memberikan kesempatan kepada klien ntk tetap melakukan kegiatan yang bisa dilakukan
Tindakan:
    1. Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan
5.2. Beri pujian atas keberhasilan klien
5.3. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah
  1. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada
Rasional:
  • Mendorong keluarga untuk mampu merawat klien mandiri di rumah
  • Support sistem keluarga akan sangat berpengaruh dalam mempercepat proses penyembuhan klien.
  • Meningkatkan peran serta keluarga dalam merawat klien di rumah.
Tindakan:
  1. Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri rendah
  2. Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat
  3. Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di ruma
DAFTAR PUSTAKA
  1. Azis R, dkk. Pedoman asuhan keperawatan jiwa. Semarang : RSJD Dr. Amino Gondoutomo. 2003
  2. Boyd MA, Hihart MA. Psychiatric nursing : contemporary practice. Philadelphia : Lipincott-Raven Publisher. 1998
  3. Budi Anna Keliat. Asuhan Klien Gangguan Hubungan Sosial: Menarik Diri. Jakarta : FIK UI. 1999
  4. Keliat BA. Proses kesehatan jiwa. Edisi 1. Jakarta : EGC. 1999
  5. Stuart GW, Sundeen SJ. Buku saku keperawatan jiwa. Edisi 3. Jakarta : EGC. 1998
  6. Tim Direktorat Keswa. Standar asuhan keperawatan kesehatan jiwa. Edisi 1. Bandung : RSJP Bandung. 2000